Jumat, 31 Oktober 2014

Hikmah Disunahkannya Puasa Hari Asyuro

Leave a Comment
Di riwayatkan dari Ibnu Abbas semoga Allah meridhoinya berkata: "(Ketika) Rasulallah Sholallahu 'alaihi wa sallam datang ke kota Madinah, maka beliau  mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyuro, ketika  mereka di tanya kenapa berpuasa, maka mereka menjawab: "Hari ini adalah hari di mana Allah Ta'ala menolong Musa dan Bani Israil dari kejaran Fir'aun, dan kami berpuasa pada hari ini sebagai bentuk pengagungan padanya". Lantas Rasulallah Sholallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Kami lebih berhak dengan Musa dari pada kalian". Kemudian beliau menyuruh kami untuk berpuasa pada hari itu". HR Bukhari no: 3943, Muslim no: 127, 128, 1130. Dan dalam riwayat Muslim ada tambahan, "Maka Musa berpuasa pada hari tersebut sebagai bentuk rasa syukurnya kepada Allah, maka kami pun berpuasa".

Di dalam hadits di atas menjelaskan tentang hikmah yang agung kenapa di syari'atkanya berpuasa pada hari Asyuro, yaitu sebagai bentuk pengagungan pada hari ini sebagai wujud rasa syukur kepada Allah Ta'ala mana kala Nabi Musa Alaihi salam dan bani israil di selamatkan dari kejaran Fir'aun, dan di tenggelamkanya Fir'aun dan pasukanya pada hari ini. 

Oleh karenanya Nabi Musa alaihi sallam berpuasa pada harinya sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah Azza wa jalla, kemudian orang-orang Yahudi pun ikut berpuasa. Dan umat Nabi Muhammad Sholallahu 'alaihi wa sallam lebih berhak untuk mencontoh Nabi Musa alaihi sallam dari pada orang-orang Yahudi. Kalau Nabi Musa alaihi sallam melakukan puasa (pada hari ini) sebagai wujud rasa sykurnya kepada Allah Ta'ala, maka kita juga berpuasa dalam rangka yang sama sebagai bentuk rasa syukur kita kepada Allah Azza wa jalla. Oleh karena itu Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Kami lebih utama untuk mengikuti Musa dari pada kalian (wahai orang-orang Yahudi)". Di dalam riwayat yang lain, beliau mengatakan: "Dan saya lebih berhak dengan Musa dari pada kalian". Maksudnya yaitu kami lebih tepat dan lebih dekat untuk mengikuti Nabi Musa Alaihi Sallam dari pada kalian, orang-orang Yahudi.

 Karena kita memiliki kesamaan dalam masalah pokok-pokok agama dengan beliau, begitu juga kita mempercayai kitab yang di bawanya, sedangkan kalian, orang-orang Yahudi banyak menyelisihi beliau, baik dalam pokok agama yang beliau ajarkan mau pun dalam kitab yang beliau bawa, dengan di rubah atau di ganti. Dan Rasulallah Sholallahu 'alaihi wa sallam lebih taat dan lebih tunduk dalam mengikuti kebenaran dari pada mereka orang-orang Yahudi, oleh sebab itu beliau mengerjakan puasa pada hari Asyuro, dan memerintahkan supaya berpuasa pada hari itu sebagai bentuk pengagungan dan penegasan akan hal itu.

Di riwayatkan dari Abu Musa semoga Allah meridhoinya berkata: "Asyuro itu adalah hari yang di agungkan oleh orang-orang Yahudi, dan menjadikanya sebagai hari raya. Maka Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Berpuasalah kalian". Dalam riwayat Muslim di sebutkan, "Adalah penduduk Khaibar mereka mengerjakan puasa pada hari Aysyuro dan menjadikanya sebagai hari raya, sedangkan para wanita pada hari itu memakai perhiasanya. Maka Rasulallah Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Berpuasalah kalian". HR Bukhari no: 2005, Muslim no: 129, 130, 1131.

Yang nampak dalam hal ini bahwa termasuk dari hikmahnya berpuasa pada hari itu untuk menyelisihi orang-orang Yahudi, yaitu dengan tidak menjadikan harinya sebagai hari raya, dan mencukupkan hanya berpuasa saja, di karenakan hari raya tidak boleh berpuasa, inilah sisi, dari bentuk menyelisihi orang-orang Yahudi pada hari Asyuro. Dan akan datang penjelasanya –Insya Allah- sisi lain bari bentuk penyelisihan mereka, yaitu supaya berpuasa pada hari ke sembilanya.

Ada dua kelompok yang sesat dalam mengagungkan hari Asyuro, kelompok yang mirip sekali dengan perlakuan Yahudi yang menjadikan hari Asyuro sebagai hari raya dan hari untuk bersenang-senang, dengan menampakan pada hari tersebut bentuk-bentuk kebahagian, seperti halnya mengecat rubah, memakai celak, memberi uang lebih pada keluarganya, memasak makanan sepesial di luar kebiasaanya, dan lain sebagainya dari perbuatan-perbuatan orang-orang bodoh, yang mereka menghadapi kesesatan dengan kesesatan lainya, membalas perkara bid'ah dengan perbuatan bid'ah yang lainya.

Ada pun kelompok yang kedua mereka menjadikan hari Asyuro ini sebagai hari belasungkawa, hari kesedihan, dan ratapan. Di karenakan (pada hari tersebut) terbunuhnya Husain bin Ali semoga Allah meridhoinya, sehingga mereka menampakan pada hari itu syi'ar-syi'ar orang-orang jahiliyah, seperti halnya memukul pipi, merobek-robek saku, melantunkan syair-syair kesedihan, membaca kisah-kisah yang banyak dustanya dari pada benarnya, membuka pintu fitnah dengan perbuatanya tersebut, sehingga memecah belah umat. Maka ini adalah amalan orang-orang yang telah tersesat di kehidupan dunia ini, sedangkan pelakunya merasa bahwa itu perbuatan kebajikan.

Sungguh suatu nikmat yang besar di mana Allah Ta'ala telah memberi hidayah kepada ahlu sunah, yang mana mereka hanya mengerjakan titah Nabinya supaya berpuasa pada hari itu, dengan selalu memperhatikan jangan sampai terjerumus menyerupai orang-orang Yahudi, dan menjauhi perintah setan kepada mereka untuk melakukan perbuatan bid'ah. Segala puji bagi Allah Ta'ala.

Ya Allah pahamkanlah kami dalam urusan agama kami, mudahkanlah kami untuk mengerjakan dan istiqomah di dalamnya, berilah kami kemudahan, dan jauhkanlah dari kesulitan, ampunilah kami di dunia dan di akhirat. Sholawat serta salam semoga Allah Ta'ala curahkan kepada Nabi kita Muhammad Sholallahu 'alaihi wa sallam.



0 komentar:

Posting Komentar